Mimpi di tengah
Pasar ….
SD Negeri 09 Pagi, Manggarai, Jakarta Selatan
tempatku bersekolah ini hanya berjarak kurang lebih 2 km dari rumahku. Tidak
terlalu jauh sebenarnya, paling lama 20 menit berjalan kaki. Bukan soal jarak
yang membuataku malas berangkat cepat-cepat, tapi pemandangan yang harus
kulihat setiap paginya di setiap kelokan dan sudut pasar yang gelap, bau, jorok
dan sumpek.
“Diii, nasi uduknya habisin, jangan disisain” suara Ibuku yang nyaring itu
terdengar lagi berteriak dari belakang. Usai menghabiskan sarapan dan
berpamitan, aku menghembuskan nafas panjang, “Bismillah” ucapku.
Becek, adalah tantangan pertamaku. Makanya setiap
pagi, aku tak pernah memakai sepatu hitam Bata yang sudah terkelupas itu.
Apalagi mengenakan kaos kaki putih. Sendal jepit Swallow warna hijau, yang kebetulan warna favoritku, menjadi alas
paling pas berjalan di jalanan pasar yang becek ini. Bagaimana tidak becek,
hampir semua pedagang ikan, ayam, daging semua secara sembarang menbuang air
bekas rendaman dagangan mereka. Ada sekitar 10 pedagang daging, 12 pedagang
ikan dan 15 pedagang ayam di pasar ini. Jadi jangan heran jika air becek nya
tak hanya hitam, tapi kadang ada warna kemerahan bekas darah, dan tentu saja
bau anyir yang, hm yah begitulah baunya.
“Berangkat Di?” sapa Mpok Minah, penjual ayam
langganan ibuku yang cuma kubalas dengan anggukan kecil. Di sebelahnya tampak
seorang ibu-ibu gendut yang sedang menawar harga bawang merah. “Pak ini bawang
sekilo piro? Hah Delapan ribu? Mahal,
lima ribu aja pak,” teriak seorang ibu menawar.
Pasar ini memang semerawut. Di samping penjual ayam,
ada saja penjual bawang, penjual kangkung. Para tukang ayam potong juga biasa
menyelip di mana saja sesuka mereka. Kebanyakan pedagang menjual lengkap
berbagai sayur mayur, serta bumbu dapur mulai dari bawang merah, bawang putih,
cabai, berbagai rempah, hingga bumbu-bumbu masak bubuk maupun bumbu halus yang
digiling sendiri. Ada cabe giling, kunyit giling, bumbu rendang, ah semua bau
menyengat itu jadi satu dengan bau nyinyir ayam dan daging.
Sesampai di ujung gang becek, aku berbelok ke kanan,
jalanan ini jauh lebih kering dibanding jalan setapak tadi. Kalaupun ada
genangan air, itu disebabkan mulai banyak pedagang gerobak berbagai makanan.
Bakso, Mie ayam, siomay, sate dan soto padang, nasi warteg, warung maka padang,
ah pokoknya banyak. Mereka juga sembarang saja membuang air kotor bekas mencuci
mangkok-mangkok mereka. Di bagian gang ini, kebanyakan penjualnya adalah
penjual kelontong dan kebutuhan pokok seperti beras, gula, Berbagai jenis
terigu, telor, mentega, dan masih banyak lagi. Kebanyakan penjual di deretan
ini berasal dari etnis Cina. Ada Kong Acoy favoritku, karena dia suka
memberikan sisa mentega, atau susu segar. Dan ah yang satu ini aku tak suka.
Penjual beras yang tokonya persis di samping Kong Acoy itu dimiliki seorang
perempuan gemuk dengan muka datar. Aku tidak tahu dan tidak pernah mau tahu
nama aslinya. Dalam hati aku panggil saja dia Enci Lit (kependekan dari Enci
Pelit).
Aku namai begitu karena aku melihat dengan mata
kepalaku sendiri, Enci Lit menambahkan kertas pembatas pada gelas takaran
beras. Alhasil beras yang dibeli akan terlihat penuh, padahal tidak. Mungkin
itu sebabnya, meski tokonya sedikit lebih besar dari Kong Acoy, pembelinya tak
pernah seramai Kong Acoy.
Begitulah pasar, demi urusan perut semua hal bisa
dilakukan. Ah hampir saja aku lupa
membeli lotion obat anti nyamuk
pesanan ibu. Ibu takut aku kena demam berdarah gara-gara kemarin aku cerita
nyamuk di sekolahku yang reot itu semakin ganas. Aku pun melipir sebentar ke warung Ibu Jumatin yang berada di belakang
warung beras Kong Acong.
“Hey Dii sini mampir sebentar, mau kemana lu?” Suara
berat dan terdengar seperti orang menggumam itu membuatku ngeri. Aku menoleh,
benar saja Supri remaja tanggung yang usianya 5 tahun di atasku menatapku
dengan mata meler. Tangan kanannya menggenggam botol bir berbau menusuk hidung
yang sudah kosong. Di belakangnya tampak 3 temannya yang jauh lebih tua
tergeletak teler. Botol-botol kosong minuman keras bergelatakan sembarang.
Biasanya minuman khas mereka adalah topi
miring dan anggur putih. Bau
anggur yang khas itu mencerminkan sudah berapa banyak yang mereka minum.
“Maap Bang, udah telat mau sekolah,” jawabku singkat
sembari cepat-cepat membayar lotion
ke Ibu Jumatin.
“Eh Supri Lu
jangan macem-macem sama Didi, ini anak baek-baek,
kagak usah Lu ajak minum-minum,” maki Ibu Jumitan. Supri tampak tak
menghiraukan makian itu. Otaknya tampak sedang berkhayal, pandangan matanya
kosong. Sepertinya pemuda yang dulu juga bersekolah di SD yang sama denganku
itu juga menegak Lexoton. Pil haram
murahan yang mampu dia beli. Dia juga pernah menawariku pil Nipam, harganya lebih mahal tapi katanya
jauh lebih enak.
“Rasanya elu terbang tinggi, enggak ada beban,”
bujuknya waktu itu.
Mabok memang menjadi pelarian termudah bagi pemuda
yang hampir semuanya menganggur. Sebulan sekali, setelah dapat jatah tips (honor)
hasil menjadi tukang parkir, para pengangguran itu suka mengadakan pesta “mabuk tiga dimensi”.
Pertama mereka akan minum-minuman keras. Setelah
mabuk di dimensi ini mereka lanjut dengan menelan obat terlarang. Terakhir,
baru mereka menghisap ganja murahan. Mabuk tiga dimensi tersebut yang menurutku
sangat berbahaya.
“Biar Elu enggak usah mikir terus beban hidup,” begitu
Supri memberi alasan. Setelah puas mabok-mabokan mereka akan tidur pulas sampai
siang. Setelah bangun siang hari, mereka lanjut tidur lagi dan baru bangun
malam hari untuk makan dan meminta uang dari orang tua mereka untuk membeli
minuman keras lagi. Menjadi tukang parkir rmenjadi sumber utama penghasilan
mereka untuk mabuk-mabukan.
Lorong di belakang deretan penjual kelontong ini
memang gelap dan tak begitu ramai. Lapak-lapak kosong yang terbengkalai itu
disulap jadi tempat tidur mereka yang mabok. Dari tempatku berdiri, aku bisa
melihat beberapa orang duduk melingkar di lapak pojokan yang gelap. Aku tak
bisa mengenali mereka, tapi yang kutahu mereka pasti sedang main judi kartu.
Tukang ikan dan tukang giling beras ketan adalah aktor utamanya. Mereka biasanya
mengajak kuli-kuli panggul untuk bermain judi.
Aku bisa mendengar bunyi dentingan receh yang susah
payah dikumpulkan dari hasil memanggul beras 50 hingga 100 kilo per hari atau
hasil memanggul berkarung-karung sayuran sejak pukul 03.00 tersebut disusun di
atas lapak untuk dijadikan taruhan. Dalam putaran dadu dan lemparan kartu
selama satu jam, semua keringat itu lenyap tak bersisa. Otak kecilku ini tak
bisa memahami mengapa mereka mau melakukan hal bodoh seperti itu. Mereka yang
bermain judi itu beralasan factor ekonomi. Ekonomi dijadikan kambing hitam
sekaligus pelarian bahwa judi bisa menjadi hiburan.
Matahari semakin terang, aku sudah hampir sampai di
ujung pasar, saat kulihat 2 sosok pemuda kekar berpakaian serba hitam
mengelilingi pasar. Rantai-rantai terjuntai di celana mereka. Ada yang memakai
ikat kepala serta sepuluh anting kecil-kecil di hidung dan daun telinga mereka.
Tato naga hitam besar meliuk disepanjang lengan temannya yang memakai kaos tak
berlengan. Keduanya berkulit hitam. Aku tak pernah mengenal keduanya. Kata ayah
mereka adalah orang sewaan pemegang wilayah Manggarai, aku tidak terlalu
mengerti kata-kata itu. Yang jelas keduanya, seperti yang saat ini sedang
terjadi di hadapanku sedang memaksa meminta uang kepada Pak Sutikem penjual
bawang dan berbagai bumbu di emperan pasar di dekat pintu masuk.
“Masa cuma 2ribu? Jangan macam-macam” Hardik
temannya yang bertato.
“Ampun bang, pagi ini kurang laku, baru segitu yang
bisa dikasih” ucap Pak Suti ketakutan.
“Tambah seribu lagi, Jangan banyak alasan!” ucap si
hidung bertindik anting.
“Ampun bang bener
sudah tidak ada lagi, tadi uangnya habis buat bayar sewa lapak. Ini hanya sisa gopek”
Rintih Pak Suti sambil memberikan kepingan logam Rp500.
“Ini buat keamanan. Lain kali sisakan buat kita
berdua, dasar tua payah!” Hardik pemuda bertato sambil sengaja menyenggolkan
tangannya ke tampah berisi bawang merah. Bawang-bawang tak berdosa itu pun
jatuh berserakan menimpak Pak Suti. Gelagapan pak Suti memungut kembali
bawang-bawangnya. Tak ada yang berani membela Pak Suti. Semua hanya diam.
Bahkan pria berseragam hansip, yang diberi tugas menjaga pasar tampak cuek.
Pernah aku bertanya secara polos kepada Ibu Tum seusia mereka memalak Pak
Gendut tahun lalu.
“Kok pak hansip enggak tangkap mereka?”. Bu As
langsung menyerobot menjawab pertanyaanku. “Hei Bocah, kamu tahu apa sih? Ya
jelas si Pak Kardi itu enggak akan nangkep, wong dia juga dapet ‘jatah’ toh.
Ngertos kamu? ‘jatah’ duit dari mereka,” bentak Bu As, yang kebuasannya
tiba-tiba lenyap kalau berhadapan dengan 2 orang timor itu. Aku Cuma
mengangguk-angguk saja mendengar penjelasan Bu As. Aku pun meneruskan
perjalanan ke sekolah.
Setidaknya sekarang aku tinggal menyebrangi jembatan
merah untuk menuju sekolahku. Tiba-tiba aku melihat seorang bocah tanggung yang
umurnya tak jauh dariku berlari kencang memegang sebuah dompet. Di belakanganya
sepuluh orang bapak-bapak mengejar tanpa ampun.
“Hoi maling jangan kabur Lu!”. Seorang bapak yang paling dekat dengan bocah itu melompat
menyambar sang bocah. Tangannya berhasil menangkap kaki bocah ingusan yang
berlari tanpa alas kaki itu.
“Ampun Pak, ampun lapar Pak Saya, ampun jangan
dipukuli,” ucapnya merintih.
“Kecil-kecil udah maling Lu, gede mau jadi apa?” ucap sang bapak yang meluncurkan tonjokan
demi tonjokan ke wajah bocah itu. Darah mulai bercucuran dari hidung bocah itu.
Sisa bapak-bapak yang sudah menyusul, juga ikut-ikutan menendang.
“UDAH!
CUKUP!” Teriakku tak tahan. Bapak-bapak itu terperanjat mendengar teriakan
bocah SD yang tampak siap bersekolah. Sesaat semua terdiam.
“Sudah-sudah bawa ke kantor polisi saja,” ucap bapak
berkacamata yang tampak lebih ramah dibanding yang lain. Bocah yang tampak
kesakitan itu pun diseret. Dompet hitam
yang sepertinya milik salah satu penjual bubur itu juga diamankan. Ingin
rasanya aku mencegah mereka, “Dia cuma lapar,” bisikku.
Aku tidak mau
menjadi seperti itu. Aku benci melihat kekerasan itu setiap hari. Bocah yang
dipukuli, remaja yang mabuk-mabukan, pedagang yang culas, penjudi yang stress,
preman tak punya hati. Aku pegang erat-erat buku pelajaranku.
--------------------------------
Penasaran
bagaimana Didi, bocah berusia 12 tahun itu meraih mimpinya? Akankah sandal jepitnya
mampu membantu Didi keluar dari lingkungan kumuh dan penuh kekerasan di Pasar
Jembatan Merah itu? Atau justru terseret ke lingkaran hitam pemuda
mabuk-mabukan, ngobat dan
tawuran? Novel ini tak sekedar
mengisahkan perjalanan seorang bocah pasar berjuang meraih mimpinya, novel ini
juga secara menyentuh membuat Anda melihat gelapnya kehidupan pasar. Selamat
menikmati.
ini novelnya bisa di beli dimana ya? harganya berapa?
ReplyDeleteBisa beli di Gramedia Rp. 55.000 atau menghubungi lewat email di woy_Adadidi@yahoo.com
Deletenice story dude
ReplyDeleteyeah, nice story
ReplyDelete