Didi

Sunday, 8 April 2012

Sinopsis Buku


Mimpi di tengah Pasar  ….
SD Negeri 09 Pagi, Manggarai, Jakarta Selatan tempatku bersekolah ini hanya berjarak kurang lebih 2 km dari rumahku. Tidak terlalu jauh sebenarnya, paling lama 20 menit berjalan kaki. Bukan soal jarak yang membuataku malas berangkat cepat-cepat, tapi pemandangan yang harus kulihat setiap paginya di setiap kelokan dan sudut pasar yang gelap, bau, jorok dan sumpek.
“Diii, nasi uduknya habisin, jangan disisain” suara Ibuku yang nyaring itu terdengar lagi berteriak dari belakang. Usai menghabiskan sarapan dan berpamitan, aku menghembuskan nafas panjang, “Bismillah” ucapku.
Becek, adalah tantangan pertamaku. Makanya setiap pagi, aku tak pernah memakai sepatu hitam Bata yang sudah terkelupas itu. Apalagi mengenakan kaos kaki putih. Sendal jepit Swallow warna hijau, yang kebetulan warna favoritku, menjadi alas paling pas berjalan di jalanan pasar yang becek ini. Bagaimana tidak becek, hampir semua pedagang ikan, ayam, daging semua secara sembarang menbuang air bekas rendaman dagangan mereka. Ada sekitar 10 pedagang daging, 12 pedagang ikan dan 15 pedagang ayam di pasar ini. Jadi jangan heran jika air becek nya tak hanya hitam, tapi kadang ada warna kemerahan bekas darah, dan tentu saja bau anyir yang, hm yah begitulah baunya.
“Berangkat Di?” sapa Mpok Minah, penjual ayam langganan ibuku yang cuma kubalas dengan anggukan kecil. Di sebelahnya tampak seorang ibu-ibu gendut yang sedang menawar harga bawang merah. “Pak ini bawang sekilo  piro? Hah Delapan ribu? Mahal, lima ribu aja pak,” teriak seorang ibu menawar.
Pasar ini memang semerawut. Di samping penjual ayam, ada saja penjual bawang, penjual kangkung. Para tukang ayam potong juga biasa menyelip di mana saja sesuka mereka. Kebanyakan pedagang menjual lengkap berbagai sayur mayur, serta bumbu dapur mulai dari bawang merah, bawang putih, cabai, berbagai rempah, hingga bumbu-bumbu masak bubuk maupun bumbu halus yang digiling sendiri. Ada cabe giling, kunyit giling, bumbu rendang, ah semua bau menyengat itu jadi satu dengan bau nyinyir ayam dan daging.
Sesampai di ujung gang becek, aku berbelok ke kanan, jalanan ini jauh lebih kering dibanding jalan setapak tadi. Kalaupun ada genangan air, itu disebabkan mulai banyak pedagang gerobak berbagai makanan. Bakso, Mie ayam, siomay, sate dan soto padang, nasi warteg, warung maka padang, ah pokoknya banyak. Mereka juga sembarang saja membuang air kotor bekas mencuci mangkok-mangkok mereka. Di bagian gang ini, kebanyakan penjualnya adalah penjual kelontong dan kebutuhan pokok seperti beras, gula, Berbagai jenis terigu, telor, mentega, dan masih banyak lagi. Kebanyakan penjual di deretan ini berasal dari etnis Cina. Ada Kong Acoy favoritku, karena dia suka memberikan sisa mentega, atau susu segar. Dan ah yang satu ini aku tak suka. Penjual beras yang tokonya persis di samping Kong Acoy itu dimiliki seorang perempuan gemuk dengan muka datar. Aku tidak tahu dan tidak pernah mau tahu nama aslinya. Dalam hati aku panggil saja dia Enci Lit (kependekan dari Enci Pelit).
Aku namai begitu karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Enci Lit menambahkan kertas pembatas pada gelas takaran beras. Alhasil beras yang dibeli akan terlihat penuh, padahal tidak. Mungkin itu sebabnya, meski tokonya sedikit lebih besar dari Kong Acoy, pembelinya tak pernah seramai Kong Acoy.
Begitulah pasar, demi urusan perut semua hal bisa dilakukan. Ah hampir saja aku lupa membeli lotion obat anti nyamuk pesanan ibu. Ibu takut aku kena demam berdarah gara-gara kemarin aku cerita nyamuk di sekolahku yang reot itu semakin ganas. Aku pun melipir sebentar ke warung Ibu Jumatin yang berada di belakang warung beras Kong Acong.
“Hey Dii sini mampir sebentar, mau kemana lu?” Suara berat dan terdengar seperti orang menggumam itu membuatku ngeri. Aku menoleh, benar saja Supri remaja tanggung yang usianya 5 tahun di atasku menatapku dengan mata meler. Tangan kanannya menggenggam botol bir berbau menusuk hidung yang sudah kosong. Di belakangnya tampak 3 temannya yang jauh lebih tua tergeletak teler. Botol-botol kosong minuman keras bergelatakan sembarang. Biasanya minuman khas mereka adalah topi miring dan anggur putih. Bau anggur yang khas itu mencerminkan sudah berapa banyak yang mereka minum.
“Maap Bang, udah telat mau sekolah,” jawabku singkat sembari cepat-cepat membayar lotion ke Ibu Jumatin.
“Eh Supri Lu jangan macem-macem sama Didi, ini anak baek-baek, kagak usah Lu ajak minum-minum,” maki Ibu Jumitan. Supri tampak tak menghiraukan makian itu. Otaknya tampak sedang berkhayal, pandangan matanya kosong. Sepertinya pemuda yang dulu juga bersekolah di SD yang sama denganku itu juga menegak Lexoton. Pil haram murahan yang mampu dia beli. Dia juga pernah menawariku pil Nipam, harganya lebih mahal tapi katanya jauh lebih enak.
“Rasanya elu terbang tinggi, enggak ada beban,” bujuknya waktu itu.
Mabok memang menjadi pelarian termudah bagi pemuda yang hampir semuanya menganggur. Sebulan sekali, setelah dapat jatah tips (honor) hasil menjadi tukang parkir, para pengangguran itu suka mengadakan pesta  “mabuk tiga dimensi”.
Pertama mereka akan minum-minuman keras. Setelah mabuk di dimensi ini mereka lanjut dengan menelan obat terlarang. Terakhir, baru mereka menghisap ganja murahan. Mabuk tiga dimensi tersebut yang menurutku sangat berbahaya.
“Biar Elu enggak usah mikir terus beban hidup,” begitu Supri memberi alasan. Setelah puas mabok-mabokan mereka akan tidur pulas sampai siang. Setelah bangun siang hari, mereka lanjut tidur lagi dan baru bangun malam hari untuk makan dan meminta uang dari orang tua mereka untuk membeli minuman keras lagi. Menjadi tukang parkir rmenjadi sumber utama penghasilan mereka untuk mabuk-mabukan.
Lorong di belakang deretan penjual kelontong ini memang gelap dan tak begitu ramai. Lapak-lapak kosong yang terbengkalai itu disulap jadi tempat tidur mereka yang mabok. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat beberapa orang duduk melingkar di lapak pojokan yang gelap. Aku tak bisa mengenali mereka, tapi yang kutahu mereka pasti sedang main judi kartu. Tukang ikan dan tukang giling beras ketan adalah aktor utamanya. Mereka biasanya mengajak kuli-kuli panggul untuk bermain judi.
Aku bisa mendengar bunyi dentingan receh yang susah payah dikumpulkan dari hasil memanggul beras 50 hingga 100 kilo per hari atau hasil memanggul berkarung-karung sayuran sejak pukul 03.00 tersebut disusun di atas lapak untuk dijadikan taruhan. Dalam putaran dadu dan lemparan kartu selama satu jam, semua keringat itu lenyap tak bersisa. Otak kecilku ini tak bisa memahami mengapa mereka mau melakukan hal bodoh seperti itu. Mereka yang bermain judi itu beralasan factor ekonomi. Ekonomi dijadikan kambing hitam sekaligus pelarian bahwa judi bisa menjadi hiburan.
Matahari semakin terang, aku sudah hampir sampai di ujung pasar, saat kulihat 2 sosok pemuda kekar berpakaian serba hitam mengelilingi pasar. Rantai-rantai terjuntai di celana mereka. Ada yang memakai ikat kepala serta sepuluh anting kecil-kecil di hidung dan daun telinga mereka. Tato naga hitam besar meliuk disepanjang lengan temannya yang memakai kaos tak berlengan. Keduanya berkulit hitam. Aku tak pernah mengenal keduanya. Kata ayah mereka adalah orang sewaan pemegang wilayah Manggarai, aku tidak terlalu mengerti kata-kata itu. Yang jelas keduanya, seperti yang saat ini sedang terjadi di hadapanku sedang memaksa meminta uang kepada Pak Sutikem penjual bawang dan berbagai bumbu di emperan pasar di dekat pintu masuk.
“Masa cuma 2ribu? Jangan macam-macam” Hardik temannya yang bertato.
“Ampun bang, pagi ini kurang laku, baru segitu yang bisa dikasih” ucap Pak Suti ketakutan.
“Tambah seribu lagi, Jangan banyak alasan!” ucap si hidung bertindik anting.
“Ampun bang bener sudah tidak ada lagi, tadi uangnya habis buat bayar sewa lapak. Ini hanya sisa gopek” Rintih Pak Suti sambil memberikan kepingan logam Rp500.
“Ini buat keamanan. Lain kali sisakan buat kita berdua, dasar tua payah!” Hardik pemuda bertato sambil sengaja menyenggolkan tangannya ke tampah berisi bawang merah. Bawang-bawang tak berdosa itu pun jatuh berserakan menimpak Pak Suti. Gelagapan pak Suti memungut kembali bawang-bawangnya. Tak ada yang berani membela Pak Suti. Semua hanya diam. Bahkan pria berseragam hansip, yang diberi tugas menjaga pasar tampak cuek. Pernah aku bertanya secara polos kepada Ibu Tum seusia mereka memalak Pak Gendut tahun lalu.
“Kok pak hansip enggak tangkap mereka?”. Bu As langsung menyerobot menjawab pertanyaanku. “Hei Bocah, kamu tahu apa sih? Ya jelas si Pak Kardi itu enggak akan nangkep, wong dia juga dapet ‘jatah’ toh. Ngertos kamu? ‘jatah’ duit dari mereka,” bentak Bu As, yang kebuasannya tiba-tiba lenyap kalau berhadapan dengan 2 orang timor itu. Aku Cuma mengangguk-angguk saja mendengar penjelasan Bu As. Aku pun meneruskan perjalanan ke sekolah.
Setidaknya sekarang aku tinggal menyebrangi jembatan merah untuk menuju sekolahku. Tiba-tiba aku melihat seorang bocah tanggung yang umurnya tak jauh dariku berlari kencang memegang sebuah dompet. Di belakanganya sepuluh orang bapak-bapak mengejar tanpa ampun.
“Hoi maling jangan kabur Lu!”. Seorang bapak yang paling dekat dengan bocah itu melompat menyambar sang bocah. Tangannya berhasil menangkap kaki bocah ingusan yang berlari tanpa alas kaki itu.
“Ampun Pak, ampun lapar Pak Saya, ampun jangan dipukuli,” ucapnya merintih.
“Kecil-kecil udah maling Lu, gede mau jadi apa?” ucap sang bapak yang meluncurkan tonjokan demi tonjokan ke wajah bocah itu. Darah mulai bercucuran dari hidung bocah itu. Sisa bapak-bapak yang sudah menyusul, juga ikut-ikutan menendang.
 “UDAH! CUKUP!” Teriakku tak tahan. Bapak-bapak itu terperanjat mendengar teriakan bocah SD yang tampak siap bersekolah. Sesaat semua terdiam.
“Sudah-sudah bawa ke kantor polisi saja,” ucap bapak berkacamata yang tampak lebih ramah dibanding yang lain. Bocah yang tampak kesakitan itu pun  diseret. Dompet hitam yang sepertinya milik salah satu penjual bubur itu juga diamankan. Ingin rasanya aku mencegah mereka, “Dia cuma lapar,” bisikku.
Aku tidak mau menjadi seperti itu. Aku benci melihat kekerasan itu setiap hari. Bocah yang dipukuli, remaja yang mabuk-mabukan, pedagang yang culas, penjudi yang stress, preman tak punya hati. Aku pegang erat-erat buku pelajaranku.
                                                                                                            --------------------------------
Penasaran bagaimana Didi, bocah berusia 12 tahun itu meraih mimpinya? Akankah sandal jepitnya mampu membantu Didi keluar dari lingkungan kumuh dan penuh kekerasan di Pasar Jembatan Merah itu? Atau justru terseret ke lingkaran hitam pemuda mabuk-mabukan, ngobat dan tawuran?  Novel ini tak sekedar mengisahkan perjalanan seorang bocah pasar berjuang meraih mimpinya, novel ini juga secara menyentuh membuat Anda melihat gelapnya kehidupan pasar. Selamat menikmati.




4 comments:

  1. ini novelnya bisa di beli dimana ya? harganya berapa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa beli di Gramedia Rp. 55.000 atau menghubungi lewat email di woy_Adadidi@yahoo.com

      Delete
  2. nice story dude

    ReplyDelete
  3. yeah, nice story

    ReplyDelete